BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Selain dari istilah evaluasi (evaluation) dan asesmen (assessment) dikenal pula beberapa istilah lainnya yaitu pengukuran (measurement), tes (test) dan testing. Diantara ketiga istilah tersebut, tes merupakan istilah yang paling akrab dengan guru. Hal tersebut disebabkan karena Tes prestasi belajar (Achievement test) seringkali dijadikan sebagai satu-satunya alat untuk menilai hasil belajar siswa.
Padahal tes sebenarnya hanya merupakan salah satu alat ukur hasil belajar. Tes prestasi belajar (Achievement test) seringkali dipertukarkan pemakaiannya oleh guru dengan konsep pengukuran hasil belajar (measurement). Dengan demikian, perlu adanya upaya untuk memperkenalkan kepada guru tentang pengertian dan esensi tentang konsep evaluasi, asesmen, tes dan pengukuran yang sesungguhnya.
Diantara peristilahan tersebut, Asesmen merupakan istilah yang belum dikenal secara umum. Para guru seringkali salah dalam menafsirkan makna asesmen yang sesungguhnya. Istilah asesmen perlu diperkenalkan kepada guru. Hal ini disebabkan karena asesmen telah menjadi khazanah peristilahan dalam dunia pendidikan kita. Selain dari itu, pemahaman tentang asesmen juga dapat mendukung keberhasilan guru dalam melaksanakan praktek penilaian pembelajaran di kelas.
B. Rumusan masalah
a. Keunggulan Tes Obyektif
b. Kelemahan Tes Obyektif
c. Keunggulan tes uraian
d. Kelemahan tes uraian
BAB II
PEMBAHASAN
PENGEMBANGAN TES HASIL BELAJAR
Keunggulan dan Kelemahan Tes
A. Keunggulan Tes Obyektif
1. Untuk mengukur proses berpikir rendah sampai dengan sedang (ingatan,
pemahaman, dan penerapan)
2. Semua atau sebagian besar materi yang telah diajarkan dapat ditanyakan saat
ujian
3. Pemberian skor dapat dilakukan dengan cepat, tepat dan konsisten, karena
3. Pemberian skor dapat dilakukan dengan cepat, tepat dan konsisten, karena
jawaban yang benar untuk setiap butir soal sudah jelas dan pasti
4. Memungkinkan untuk dilakukan analisis butir soal (tingkat kesukaran, daya
4. Memungkinkan untuk dilakukan analisis butir soal (tingkat kesukaran, daya
beda, efektivitas, pengecoh, dan reliabilitasnya)
5. Tingkat kesukaran butir soal dapat dikendalikan
6. Informasi yang diperoleh lebih kaya
B. Kelemahan Tes Obyektif
1. Hanya mengukur proses berpikir rendah
2. Membuatnya lebih sulit daripada tes uraian, terutama pada alternatif jawaban
3. Dapat mengganggu kemampuan siswa dalam memahami kalimat dalam butir
3. Dapat mengganggu kemampuan siswa dalam memahami kalimat dalam butir
soal
4. Siswa tidak dapat mengorganisasikan, menghubungkan dan menyatakan idenya
4. Siswa tidak dapat mengorganisasikan, menghubungkan dan menyatakan idenya
sendiri, karena sudah ada alternatif jawabanUpaya untuk meminimalisir
kelemahan tes obyektif adalah :
1. Harus berorientasi dari kisi-kisi soal, berdasarkan pada indikator yang dapat
diukur, penulis soal harus menguasai teknik penulisan tes obyektif dan ketika
enulis soal yang baru atau merevisi butir soal berdasarkan hasil analisi butir
soal.
2. Penulis soal harus menguasai materi dan berlatih menulis soal terus menerus,
2. Penulis soal harus menguasai materi dan berlatih menulis soal terus menerus,
untuk menanggulangi lamanya menulis soal penulis soal harus memiliki bank
soal.
3. Untuk mengatasi kemampuan membaca siswa penulis soal harus dapat
3. Untuk mengatasi kemampuan membaca siswa penulis soal harus dapat
mengonstruksi alternatif jawaban dengan kalimat yang pendek, mudah
dimengerti, tidak lebih dari satu arti. Sedangkan untuk mengatasi masalah
tebakan (guessing) dapat diatasi dengan memperbanyak alternatif jawaban
sehingga kemungkinan menebak akan semakin kecil. Dengan formula sebagai
berikut :
SA= b-s/n-1
SA= b-s/n-1
SA = skor akhir yang diperoleh anak
b = jumlah jawaban yang benar
s = jumlah jawaban salah
n = jumlah alternatif jawaban
4. Tes obyektif sebaiknya digunakan untuk tes sumatif, sedangkan untuk ulangan
harian usahakan dengan tes uraian.
C. Keunggulan tes uraian
1. Untuk mengukur proses berpikir tinggi
2. Untuk mengukur hasil belajar yang kompleks dan tidak dapat diukur dengan tes
Obyektif
3. Waktu yang digunakan untuk menulis soal lebih cepat
4. Menulis tes uraian yang baik relatif lebih mudah daripada menulis tes obyektif
yang baik
D. Kelemahan Tes Uraian
1. Terbatasnya sampel materi yang ditanyakan
2. Sukar memeriksa jawaban siswa
Karena sukar memeriksa jawaban siswa, sehingga pemberian skor kurang
obyektif dan kurang konsisten. Hal ini disebabkan beberapa hal, diantaranya:
a. Adanya Hallo Effect
a. Adanya Hallo Effect
Memberi skor hanya dengan anggapan bahwa siswa pada satu mata pelajaran
(misal: MTK), sehingga pelajaran yang lain pun dianggap pandai.
b. Adanya Efek Bawaan (Carry Over Effect)
- Efek bawaan yang terjadi pada saat memeriksa butir soal nomor 1 ke butir soal
nomor 2 dan seterusnya.
- Efek bawaan yang terjadi pada saat memeriksa jawaban satu siswa ke siswa
lainnya cenderung tinggi setelah memeriksa jawaban siswa yang jelek.
c. Efek urutan pemeriksaan (Order Effect)
Hasil siswa yang diperiksa lebih awal cenderung tinggi daripada hasil siswa yang diperiksa mendekati akhir.
d. Pengaruh penggunaan bahasa
Kualitas jawaban siswa tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas isi jawaban tetapi juga dipengaruhi oleh penggunaan bahasa, ejaan, kalimat, tanda baca, dan struktur kalimat
e. Pengaruh tulisan tangan
e. Pengaruh tulisan tangan
Kualitas tulisan siswa cenderung mempengaruhi skor siswa. Kualitas tulisan yang baik diberi skor tinggi daripada kualitas tulisan yang jelek.
Ada beberapa upaya yang ditempuh untuk meminimalkan kelemahan tes uraian, yaitu :
1. Agar validitas isi tes uraian tinggi, maka berbentuk tes uraian terbatas.
2. Unsur subyektivitas harus ditekan seminimal mungkin dengan memeriksa hasil
1. Agar validitas isi tes uraian tinggi, maka berbentuk tes uraian terbatas.
2. Unsur subyektivitas harus ditekan seminimal mungkin dengan memeriksa hasil
tes siswa tanpa nama.
3. Agar pemeriksaan tes uraian lebih obyektif dan konsisten, maka cara yang
harus dilakukan pemeriksa adalah sebagai berikut :
a. Gunakan tes uraian terbatas
b. Gunakan dua pemeriksa
c. Ada kesepakatan dalam memberi skor antara kedua pemeriksa
d. Lakukan uji coba terlebih dahulu terhadap skor yang telah disepakati setidak-
tidaknya dari 4 orang siswa dengan perbedaan skor kedua pemeriksa kurang
dari 5.
4. Upaya untuk mengurangi Hallo Effect adalah dengan menutup nama peserta
tes.
5. Untuk menghindari Carry Over Effect adalah dengan memeriksa jawaban per
5. Untuk menghindari Carry Over Effect adalah dengan memeriksa jawaban per
nomor untuk seluruh siswa.
6. Untuk menghindari Order Effect adalah bila anda lelah, berhentilah memeriksa
dan lanjutkan kembali setelah anda fresh kembali.
Mengembangkan Tes
Pengelompokkan Tes :
A. Tes Obyektif
1. Benar - Salah (True-False Item)
2. Digunakan untuk :
a. Mengidentifikasi kebenaran suatu pernyataan : fakta, definisi, prinsip, teori,
hukum, dsb.
b. Mengukur kemampuan siswa untuk membedakan antara fakta dengan opini atau pendapat.
c. Mengukur hasil belajar yang lebih tinggi dari sekedar ingatan.
Keunggulan
-. Mudah dikonstruksi
Keunggulan
-. Mudah dikonstruksi
-. Dpt menanyakan banyak sampel materi
-. Mudah penyekorannya
-. Tepat utk mengukur proses berpikir sederhana
Kelemahan
-. Kemungkinan untuk menebak lebih tinggi
-. Kemungkinan untuk menebak lebih tinggi
-. Kemungkinan menjawab benar salah adalah sama.
-. Hanya untuk mengukur aspek ingatan.
Beberapa saran yang layak dipertimbangkan dalam mengkonstruksi tes B – S1) Kalimat atau pertanyaan harus dapat ditentukan dijawab benar atau salah. Hindari pertanyaan yang membingungkan atau yang bermakna ganda.
2) Hindari penulisan butir soal B – S yang hanya mengukur hasil belajar yang
2) Hindari penulisan butir soal B – S yang hanya mengukur hasil belajar yang
tidak mengukur kompetensi tetapi konstruksilah butir soal B – S yang dapat
mengukur hasil belajar yang lebih penting dan bermakna.
3) Upayakan butir soal B – S menguji hasil belajar yang lebih tinggi dari sekedar
3) Upayakan butir soal B – S menguji hasil belajar yang lebih tinggi dari sekedar
ingatan.
4) Hindari penggunaan pertanyaan negatif apalagi pertanyaan negatif ganda.
5) Hindari penggunaan kalimat yang terlalu kompleks.
4) Hindari penggunaan pertanyaan negatif apalagi pertanyaan negatif ganda.
5) Hindari penggunaan kalimat yang terlalu kompleks.
6) Pernyataan yang benar dan pernyataan yang salah harus dibuat seimbang dalam
hal panjang pendeknya kalimat. Hal ini menjadi penting karena secara alamiah
ada kecenderungan bahwa pernyataan yang benar itu dibuat dalam bentuk
kalimat yang panjang karena pernyataan tersebut harus dibuat dengan setepat-
tepatnya.
7) Jumlah jawaban untuk pertanyaan yang benar hendaknya seimbang dengan
7) Jumlah jawaban untuk pertanyaan yang benar hendaknya seimbang dengan
jumlah pernyataan yang salah dan urutan jawaban yang benar dan salah
hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga siswa tidak mudah untuk
menebak.
2. Menjodokan (Matching Exercise) Tes obyektif yang ditulis dalam dua kolom.
2. Menjodokan (Matching Exercise) Tes obyektif yang ditulis dalam dua kolom.
Kolom Pertama pokok soal (premis), kolom kedua jawaban (respon)
Keunggulan
-. Mudah dibuat
-. Mudah penyekorannya
-. Dapat menguji banyak materi ajar
-. Dapat mengukur hasil belajar siswa tentang definisi, fakta, istilah, dan peristiwa
atau kejadian.
-. Dapat digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menghubungkan
dua hal secara langsung maupun tidak langsung. Kelemahan
-. Cederung hanya untuk mengukur proses berpikir sederhana
Beberapa hal yang layak dipertimbangkan dalam menulis tes menjodohkan :
1) Pernyataan-pernyataan di bawah kolom pertama (premis) dan kolom kedua
1) Pernyataan-pernyataan di bawah kolom pertama (premis) dan kolom kedua
(respons) harus terdiri dari kelompok pernyataan yang homogen.
2) Jumlah pernyataan dalam kolom kedua hendaknya dibuat lebih banyak dari
2) Jumlah pernyataan dalam kolom kedua hendaknya dibuat lebih banyak dari
jumlah pernyataan dalam kolom pertama.
3) Jika pernyataan pada premis dan respon dibuat dalam bentuk kalimat, maka
penulisan kalimat pada respons hendaknya lebih pendek dari pernyataan pada
premis.
4) Jika jawaban-jawaban yang ada pada respons berbentuk angka, maka
4) Jika jawaban-jawaban yang ada pada respons berbentuk angka, maka
penulisannya harus diurutkan.
5) Letakkan keseluruhan pernyataan pada premis dan respon pada halaman yang
sama.
Pilihan Ganda (Multiple Choice)
Konstruksinya terdiri atas:
a. Pokok soal (stem)
Dapat dibuat dalam 2 bentuk, yaitu dalam bentuk pertanyaan tidak selesai atau dalam bentuk pertanyaan.
b. Alternatif jawaban (option)
Satu diantara alternatif jawaban adalah jawaban benar (kunci jawaban) sedangkan yang lainnya sebagai pengecoh (distractor). Jumlah alternatif jawaban biasanya 3 sampai 5 alternatif.
Semakin banyak alternatif jawaban yang dibuat maka kemungkinan siswa menebak jawaban semakin kecil.
Contoh :
Jika alternatif jawaban 3 buah, maka kemungkinan menebak ⅓ x 100% = 33,3%
Jika alternatif jawaban 4 buah, maka kemungkinan menebak ¼ x 100% = 25%
Ragam Tes Pilihan Ganda, ada 5 ragam tes :
Jika alternatif jawaban 3 buah, maka kemungkinan menebak ⅓ x 100% = 33,3%
Jika alternatif jawaban 4 buah, maka kemungkinan menebak ¼ x 100% = 25%
Ragam Tes Pilihan Ganda, ada 5 ragam tes :
a) Melengkapi Pilihan (Ragam A), tersusun atas pokok soal disertai dengan 4
alternatif jawaban. Dengan perintah Pilih salah satu jawaban yang paling tepat.
b) Hubungan antarhal (Ragam B), konstruksinya butir soal hubungan antarhal
b) Hubungan antarhal (Ragam B), konstruksinya butir soal hubungan antarhal
yang tersusun dari 2 pernyataan yang berdiri sendiri dan dipisahkan dengan
kata sebab, dengan jawaban menentukan ada tidaknya hubungan antar kedua
pernyataan.
c) Analisis kasus (Ragam C), pertanyaan yang dirumuskan dikembangkan dari
c) Analisis kasus (Ragam C), pertanyaan yang dirumuskan dikembangkan dari
kasus yang disajikan sebelumnya dengan perintah jawaban siswa sama dengan
ragam A.
d) Ganda Kompleks (Ragam D), tersusun atas pokok soal yang berupa pertanyaan
d) Ganda Kompleks (Ragam D), tersusun atas pokok soal yang berupa pertanyaan
disertai dengan 3 atau 4 buah alternatif jawaban. Dengan perintah jawaban
menggunakan angka 1,2,3.
e) Membaca diagram, Tabel atau Grafik (Ragam E), soal disampaikan dalam
bentuk tabel, grafik, atau diagram. Dengan perintah jawaban yang berhubungan
dengan tabel, grafik, atau diagram.
Beberapa saran yang layak diperhatikan dalam penulisan tes pilihan ganda:
1) Inti permasalahan yang akan ditanyakan harus dirumuskan dengan jelas pada
1) Inti permasalahan yang akan ditanyakan harus dirumuskan dengan jelas pada
pokok soal. Dengan membaca pokok soal diharapkan peserta tes dapat mengerti
apa yang ingin ditanyakan oleh butir soal tersebut.
2) Hindari pengulangan kata yang sama pada alternatif jawaban.
3) Hindari penggunaan kalimat yang berlebihan pada pokok soal. Rumusan pokok
3) Hindari penggunaan kalimat yang berlebihan pada pokok soal. Rumusan pokok
soal yang baik adalaha singkat, jelas, dan tidak menimbulkan salah tafsir.
4) Alternatif jawaban yang disediakan hendaknya logis, homogen baik dari segi
4) Alternatif jawaban yang disediakan hendaknya logis, homogen baik dari segi
materi atau panjang pendeknya kalimat, dan pengecoh menarik untuk dipilih.
5) Dalam merumuskan pokok soal, hindari adanya petunjuk ke arah jawaban yang
5) Dalam merumuskan pokok soal, hindari adanya petunjuk ke arah jawaban yang
benar.
6) Setiap butir soal hanya ada satu jawaban yang benar atau yang paling benar.
7) Dalam merumuskan pokok soal, hindari penggunaan ungkapan negatif. Jika
6) Setiap butir soal hanya ada satu jawaban yang benar atau yang paling benar.
7) Dalam merumuskan pokok soal, hindari penggunaan ungkapan negatif. Jika
ungkapan negatif diperlukan maka kata tersebut harus dicetak tebal.
8) Hindari penggunaan alternatif jawaban yang berbunyi semua jawaban benar
8) Hindari penggunaan alternatif jawaban yang berbunyi semua jawaban benar
atau semua jawaban salah.
9) Jika alternatif jawaban berbentuk angka, susunlah angka tersebut secara
berurutan.
10) Dalam merumuskan pokok soal, hindari penggunaan istilah yang terlalu
10) Dalam merumuskan pokok soal, hindari penggunaan istilah yang terlalu
teknis.
11) Upayakan agar jawaban butir soal yang satu tidak tergantung dari jawaban
11) Upayakan agar jawaban butir soal yang satu tidak tergantung dari jawaban
butir soal yang lain.
B. Tes Uraian
1. Uraian Terbatas (Restricted Question)
Tepat digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menjelaskan hubungan sebab akibat, menerapkan suatu prinsip atau teori, memformulasikan hipotesis, merumuskan kesimpulan, dan lain sebagainya.
2. Uraian Terbuka (Open Ended Question)
2. Uraian Terbuka (Open Ended Question)
Tepat digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam : menghasilkan, mengorganisasi, dan mengekspresikan ide; mengintegrasikan pelajaran dalam berbagai bidang; membuat rencana suatu eksperimen; mengevaluasi manfaat suatu ide dan sebagainya.
Keunggulan
-. Digunakan untuk mengukur proses berpikir tinggi (analisis, evaluasi, dan
-. Digunakan untuk mengukur proses berpikir tinggi (analisis, evaluasi, dan
kreasi)
-. Digunakan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks yang tidak dapat
-. Digunakan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks yang tidak dapat
diukur dengan tes obyektif misal: keterampilan menulis, menghasilkan,
mengorganisasi, dan mengekspresikan ide atau gagasan.
-. Waktu yang dibutuhkan untuk menulis perangkat tes lebih cepat.
-. Menulis tes uraian yang baik relatif lebih mudah daripada menulis tes obyektif
-. Menulis tes uraian yang baik relatif lebih mudah daripada menulis tes obyektif
yang baik.
Kelemahan
-. Terbatasnya sampel materi yang ditanyakan.
-. Terbatasnya sampel materi yang ditanyakan.
-. Sukar memeriksa jawaban siswa.
a) Cara menulis tes uraian yang baik.
1. Ditulis berdasarkan perencanaan tes yang dibuat.
2. Digunakan untuk mengukur hasil belajar yang sukar.
3. Kembangkan butir soal dari suatu kasus.
4. Gunakan tes uraian terbatas.
5. Gunakan kata tanya (jelaskan, bandingkan, hubungkan, simpulkan, analisislah,
kelompokkanlah, identifikasikanlah, dsb.
6. Rumuskan pertanyaan dengan jelas dan tegas sehingga tidak menimbulkan
salah tafsir.
7. Mempertimbangkan waktu yang tersedia dengan kemampuan dan kecepatan
menulis siswa.
8. Hindarkan penggunaan pertanyaan pilihan.
9. Tentukan skor maksimal dari setiap butir soal yang ditulis. Sebelum tes uraian
digunakan, telaahlah dengan pedoman telaah tes uraian berikut : No Pertanyaan
penelaahan Ya Tidak
1. Apakah tipe tes ini yang paling tepat digunakan untuk mengukur tujuan
pembelajaran yang diinginkan?
2. Apakah tes ini sudah digunakan untuk mengukur jenjang berpikir tinggi?
3. Apakah pertanyaan yang dirumuskan dapat mengukur tujuan pembelajaran
3. Apakah pertanyaan yang dirumuskan dapat mengukur tujuan pembelajaran
yang diinginkan?
4. Apakah pertanyaan sudah dirumuskan dengan jelas sehingga siswa tahu apa
yang harus dijawab?
5. Apakah jumlah butir soal tersebut dapat dikerjakan dalam satu waktu ujian
yang telah ditetapkan?
6. Apakah setiap siswa diberi kesempatan yang sama untuk mengerjakan tes yang
sama?
7. Jika butir soal tersebut direvisi, apakah masih tetap dapat mengukur tujuan
7. Jika butir soal tersebut direvisi, apakah masih tetap dapat mengukur tujuan
yang sama?
8. Apakah jumlah skor maksimal pada setiap butir soal sudah tepat dan sudah
dicantumkan?
9. Apakah butir soal tersebut sudah ditulis berdasarkan kisi-kisi?
b) Cara memeriksa hasil tes uraian
b) Cara memeriksa hasil tes uraian
Ada 2 cara yang dapat digunakan untuk memeriksa hasil tes uraian;
1) Metode analitik (analytic method) untuk memeriksa tes uraian terbatas.
Pemeriksaan jawaban siswa dilakukan berdasarkan pedoman perskoran yang dibuat oleh penulis soal. Yang perlu diperhatikan dalam membuat pedoman penskoran adalah:
1) Metode analitik (analytic method) untuk memeriksa tes uraian terbatas.
Pemeriksaan jawaban siswa dilakukan berdasarkan pedoman perskoran yang dibuat oleh penulis soal. Yang perlu diperhatikan dalam membuat pedoman penskoran adalah:
a. Tulis jawaban terbaik dari butir soal yang dibuat.
b. Semua alternatif jawaban harus ditulis semua.
c. Harus ada kata kunci dari setiap jawaban.
d. Pertimbangkan bobot dari setiap kata kunci satu dengan yang lainnya.
e. Beri skor dari setiap kata kunci yang diharapkan.
f. Bobot yang lebih tinggi harus diberi skor yang tinggi juga.
g. Cantumkan skor maksimal pada bagian kanan atas setiap butir soal.
Yang perlu dilakukan agar reliabilitas meningkat dari pemeriksaan tes uraian adalah:
a. Setiap jawaban siswa diperiksa oleh 2 orang dengan bekerja sendiri-sendiri.
b. Sebelum memeriksa, kedua pemeriksa harus menyamakan persepsi dari setiap
a. Setiap jawaban siswa diperiksa oleh 2 orang dengan bekerja sendiri-sendiri.
b. Sebelum memeriksa, kedua pemeriksa harus menyamakan persepsi dari setiap
butir soal dan jawaban yang dinginkan penulis soal.
c. Melakukan uji coba pemeriksaan dengan sampel minimal 5 orang siswa.
d. Setelah mempunyai persepsi yang sama, mulailah memeriksa dengan menutup
d. Setelah mempunyai persepsi yang sama, mulailah memeriksa dengan menutup
nama siswa dengan memeriksa per nomor secara bergantian.
e. Setelah seslesai memeriksa, kedua pemeriksa bertemu untuk menoleransi-kan
terhadap perbedaan skor. Non eksak 10% dari skor maksimal.
Eksak 5% dari skor maksimal. Jika terdapat perbedaan skor yang melebihi batas toleransi, maka harus diperiksa kembali.
2) Metode Holistik (Holistic scoring method ) dapat dilakukan denga 2 cara :
a. Pemeriksa memeriksa secara keseluruhan jawaban siswa.
a. Pemeriksa memeriksa secara keseluruhan jawaban siswa.
b. Pemeriksa mengulang kembali pemeriksaan untuk lebih meyakinkan bahwa
jawaban tepat sesuai kategori atau tidak.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Pada dasarnya peserta didik memiliki tiga ranah keluaran belajar, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Dalam setiap pembelajaran, ranah ini diharapkan oleh pendidik dapat berkembang dengan baik. Untuk mengetahui perkembangan ketiga ranah itu, dilakukanlah kegiatan evaluasi. Hal ini tentu saja bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran telah dicapai oleh peserta didik. Selain itu, evaluasi tentu saja dapat membantu pendidik untuk mengetahui kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Dengan mengetahui kemampuan-kemampuan siswa tersebut, pendidik dapat mengetahui dan sekaligus membimbing peserta didik yang masih kurang mampu memahami materi pelajaran yang telah mereka ajarkan.
SARAN
Kegiatan evaluasi tentu saja tak dapat dilakukan tanpa prosedur yang jelas. Ada prinsip-prinsip evaluasi yang sepatutnya diterapkan oleh peserta didik. Tanpa mengikuti prinsip ini dikhawatirkan hasil evaluasi tidak akan valid, tidak reliabilitas, tidak objektif, dan tidak praktis menggambarkan kemampuan belajar peserta didik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar